Ramuan Sedih

Sedih adalah penyakit jiwa yang ada dalam kehidupan manusia, yang hadir dalam merepons berbagai masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan yang fana’ ini. Akibatnyanya manusia sulit untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini.  Kesedihan yang berkelanjutan akan mengakibatkan hilangnya kesadaran pada diri manusia.

Menurut Al-kindi ada beberapa hal guna menghilangkan kesedihan yang melanda manusia. Dimana tips yang digunanakan Al-Kindi ini tidak jauh berbeda dengan konsep yang pakai oleh para sufi di dalam mempelajari tasawuf, yaitu;  kita harus merasa puas terhadap apa yang melanda kita (qona’ah) karena mengharapkan keabadian sesuatu yang ada pada dunia ini adalah  termasuk pemikiran yang salah. Allah menciptakan  sesuatu di dunia ini tidak abadi dan bersifat  fana’. Tentunya mengharapkan sesuatu keabadian merupakan perilaku yang bodoh.

Kesedihan dapat menimpa pada diri kita dari berbagai arah, diantaranya karena hilangnya sesuatu yang dicinta, luputnya sesuatu yang diharapkan, menimpanya musibah bagi kita, dan lain-lain.

Allah Berfirman:

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan allah. dialah yang maha mendengar lagi maba mengetahui.( Qs 10:65)

Ayat tersebut menyarankan bagi kita supaya bertawakal kepada allah atas kesedihan yang menimpa pada diri kita.  kesedihan adalah hal alami dan akan hilangnya dengan sendirinya ketika manusianya sendiri masih menyadari perlunya bertawakal dengan semua takdir yang menimpa kita.

www.rokhim.net

Kemuliaan Rasio Menurut Plato

Rasio menurut  plato menempati kedudukan yan sangat mulia, bahkan rasio digunakan media untuk menuju kebenaran yang hakiki. Kaberadaan rasio dapat mempertimbangkan dan menilai aspek positif dan negatif

Sebagai mana yang dikatan oleh plato, bahwa di dalam diri manusia terdapat unsure yang sangat penting yaitu, rasio dan kesenangan. Keduanya ini berperan aktif dalam menganggapi berbagai permasalahan pada diri manusia untuk mencari jalan keluar, misalnya ketika seseorang hendak memakan makanan lezat yang penuh dengan bahan pengawet (kesenangan), rasio kita akan mengatakan bahwa makanan tersebut  membahayakan  terhadap tubuh kita. Tapi kadang-kadang rasio manusia dikalahkan oleh kesenangan, sehingga menusia berada  dalam kondisi yang celaka.

Sebenarnya di dalam diri manusia terdapat fitrah , tapi fitrah tersebut sering tidak berfungsi karena tertutupi oleh kesenangan dan hawa nafsu manusia, yang kemudian  manusia tidak mengenal kebenaran yang hakiki.

Didalam teori yang lain plato mengatakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga  elemen yang saling melengkapi antara yang satu dengan lain, yaitu; rasio, roh, dan nafsu. Elemen tesebut diibaratkan seorang kusir yang ditarik oleh  ke dua kuda, salah satu kuda tersebut berwarna putih, dan kuda satunya lagi hitam. Kuda hitam sebagai nafsu yang selalu cenderung keburukan.  Sementara kuda putih bagaikan roh yang selalu cenderung  kepada kebaikan. Tukang kusir diibaratkan rasio yang selalu mengarahkan kepada jalan lajunya kuda putih yang selalu cenderung kepada jalan kebaikan. Dari teori yang kedua ini plato menyimpulkan bahwa rasio sebagai media untuk mengarahkan kepada kebaikan.

Jika ketiga elemen tersebut dihubungkan dengan dunia pendidikan,, maka akan menciptkan karakter manusia sebagai berikut:

1. kecenderungan kepada rasio akan menumbuhkan kepada dunia intelektual

2. kecenderungan kepada roh akan menumbuhkan jiwa yang fatalis, pasrah, statis dan lain-lain,

3. kecenderungan kepada nafsu akan menumbuhkan jiwa-jiwa materialis yang tiada puasnya mengharapkan kesenangan dunia

Aliran-Aliran Dalam Filsafat

Rasionalisme

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M).  Dalam bukuDiscourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis.  Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.  Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”.  Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya.  Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.  Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi.  — Mengapa kebenaran itu pasti?  Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly and distinctly”, “clara et distincta”.  Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar.  Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.

Lanjut membaca

Ibnu Khaldun

Biografi Ibnu Khaldun

Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Lanjut membaca

Abu Yazid Al-Bustomi dan Ajarannya

Dalam sejarah tasawuf abu yazid Al-Bustami ( Wafat 874 M) dikenal sebagai seorang pertama yang memperkenalkan ajaran fana dan dan Baqa’. Nama lengkap abu yazid Al-Bustami Thaifur Bin Isa Surusyan Al-Bustami. Ia lahir di daerah bustam (Persia) tahun 874-947 M. nama kecilnya Taifur. Kakeknya bernama sursuryan, seorang penganut agama Zoroaster. Abu yazid al-bustami berasal dari seorang yang sangat kaya, akan tetapi pola hidupnya tetap sederhana. Abu Yazid  mempunyai keistiewaan tersendiri sebelum ia lahir ke kedunia, menurut riwayat seorang ibunya, ketika abu yazid masih berada dalam kandungan, bila sang ibu makan dari  makanan yang masih diragukan kehalalannya ia langsung muntah.
Sewaktu masih kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan pandai serta sangat berpegang teguh terhadap ajaran agama, bahkan ia sangat patuh terhapap perintah orang tuanya. Diriwayatkan pada suatu saat salah satu gurunya menerangkan tentang surat Al-Luqman “ berterima kasihlah kepada aku dan kepad kedua orang tuamu”. Ayat tadi menggetarkan hati abu yazid, seraya ia berhenti dari belajarnya dan bersegera menemui oarng tuanya.  Ibunya  juga sangat tekun membimbing abu yazid, ia mengirim kemasjid untuk belajar, setelah abu yazid dewasa, pergi keberbagai daerah untuk berguru kepada seorang ulama seperti ati dari sind. Baca Selengkapnya

Pembaruan Turki Usmani

Turki usmani adalah sebuah kerajaan islam yang ternama dalam dunia, akan turki usmani pada perkembangannya mengalami kemunduran dibandingkan dunia barat. Eropa dapat mengalahkan turki usmani pada peperangan wina pada tahun 1683 M. kekalahan inilah yang membuat orang-orang turki usmani membuka mata terhadap perkembangan dunia barat, orang-orang yang dianggap kafir mulai mendapat perhatian, perhargaan. Untuk itu turki usmani berusaha untuk melakukan penelitian tentang kemajuan-kemajuan didunia barat dengan mengirim duta-duta mendapatkan informasi tentng-tengang barat.Baca Selanjutnya

Hub Tasawuf dan Akhlak

Tasawuf dan akhlak merupakan  disiplin  ilmu dalam islam yang sangat erat sekali hubungannnya, dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. karena ketika kita membicarakan akhlak apek tasawuf tidak bias dilepaskan.  Demikian sebaliknya jika tasawuf dibincangkan maka akhlak Menjadi hal utama yang harus bahas. Untuk mengetahui seberapa pentingkah hubungan akhlak dengan tasawuf mungkin kita dapat mengkaji pendapat-pendapat ulama sebagai berikut.
 الأخلاق بداية االتصوف والتصوف نهاية الأخلاق
Artinya:
Akhlak adalah pangkal permulaan tasawuf sedangkan tasawuf  batas akhir dari akhlak.
Begitu juga halnya yang dikatakan oleh Al-kattany yang telah dikemukakan oleh al-Ghazali sebagai berikut
التصوف خلق فمن زاد عليك في الخلق زاد عليك في التصوف
Artinya:  tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atasmu dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan bekal atas dirimu dalam bertasawuf.
Pengalaman tsawuf yang dilakukan para sufi telah memberikan kesan kepada kita, bahwa tasawuf  merupakan ajaran yang meruang lingkup kepada hubungan transenden; yang berarti hubungan hamba allah dan tuhannya, hal ini telah diperkuat oleh pendapat Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi, yang mengemukakan beberapa prinsip-prinsip ajaran taawuf, sebagaimana yang telah dikatakannya;
أصول التصوف خمسة: تقوى الله وتباع السنة والإعراض والرضا والرجوع
Artinya;
Prinsip-prinsip tasawuf  ada lima; yaitu taqwa kepada allah mengikuti sunnah, menahan diri, rela dan bertaubat.

Thales dan Profesinya

THALES

(624-550 SM)

Berasal dari Miletus, salah satu tujuh dari orang bijak dari yunani, dan salah seorang dari Tritunggal Mazhab Milesian.

Berpikir pemikiran Thales

Thales mengatakan bahwa “segala sesuatu terbuat dari air” dan yang terpenting adalah air. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Thales dapat berpikir tentang hal itu? Apakah ini hanya logika berpikir, istilah, atau observasi yang dilakukan oleh Thales? Hal ini mungkin dapat dijawab apabila kita mencoba masuk lebih dalam tentang pemikiran beliau. Air suatu senyawa kimia yang didalamnya terkandung beberapa zat seperti Hydrogen, Oksigen, Besi, Natrium dan lainnya yang membentuk senyawa H2O, (walaupun jaman Thales belum ditemukan persenyawaan seperti itu) yang selalu dimanfaatkan oleh setiap Individu dan air sangat dibutuhkan oleh tubuh, untuk diminum, mencuci, mandi. Tidak hanya bagi individu tapi tanaman juga membutuhkannya untuk nutrisi, untuk pengairan sawah dan lainnya. Dari sinilah memungkinkan Thales mengungkapkan suatu pernyataan bahwa segalanya terbuat dari air, dengan pembuktian bahwa segala sesuatu membutuhkan air dan air merupakan substansi yang terpenting.

  Lanjut membaca

Pemikiran Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali

A. Abu Hamid Al Ghazali

Nama lengkap Al Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al Thusi Al Ghazali. Ia lahir pada tahun 450 H/1058 M di Thus, sebuah daerah dekat Masyhad, di Khurasan (Iran). Al Ghazali wafat pada tahun 505 H/1111 M. Nama Al Ghazali diambil dari kata ‘Ghazalah’ nama sebuah kampung, dimana Al Ghazali dilahirkan.

Kota Thus adalah tempat Al Ghazali menerima pendidikan awalnya. Tidak lama sebelum meninggal, ayahnya mempercayakan pendidikan Al Ghazali dan adik laki-lakinya Ahmad (1126 M) kepada seorang sufi yang saleh. Al Ghazali dididik untuk dapat mempelajari Al Quran dan Al Hadis, mendengarkan kisah tentang ahli hikmah, juga menghafal puisi cinta mistis. Setelah dana pendidikannya habis, ia dikirim ke sebuah madrasah, dimana disanalah ia pertama kali mulai mempelajari fikih dari Ahmad Al Raskani.

Al Ghazali pergi ke Jurjan di Mazardaran untuk melanjutkan studinya dibidang fikih di bawah bimbingan Abu Nashr Al Isma’ili pada usianya yang masih dini, yakni sebelum lima belas tahun. Pada usia tujuh belas tahun, ia kembali ke Thus. Sebelum ulang tahunnya ke dua puluh, Al Ghazali berangkat ke Naisyapur (Naizabur) untuk belajar fikih dan kalam di bawah didikan Al Juwaini. Al Ghazali diangkat sebagai asisten pengajar Al Juwaini dan terus mengajar pada madrasah Nizamiyah di Nizabur hingga Al Juwaini meninggal tahun 478 H/1085 M.

Al Ghazali mempunyai nama yang harum dalam Islam. Ia adalah seorang yang termahsur sebagai pengarang, sebagai sufi dan sebagai Shaykh Madrasah Al Nizamiah. Al Ghazali menyusun banyak buku untuk membersihkan ilmu-ilmu agama Islam dari kesesatan. Karena jasanya itu, ia dinobatkan sebagai seorang muslim terbesar sesudah Nabi Muhammad SAW. Dibalik nama harumnya dikalangan umat muslim, terdapat fakta lain, bahwa Al Ghazali juga di klaim sebagai penentang dan penghancur pemikiran filsafat, baik filsafat dalam Islam sendiri, maupun filsafat di dunia barat.

Lanjut membaca

Konsep Ketuhanan Al-kindi

Tuhan menurut Al-Kindi adalah pencipta alam, bukan penggerak pertama. Tuhan itu Esa, Azali, ia unik. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, tidak bertubuh. Ia hanyalah keEsaan belaka, selain Tuhan semuanya mengandung arti banyak. Pembahasan utama filasfatnya adalah tentang konsep ketuhanan. Karena filsafat menurutnya, adalah menyelidiki kebenaran, maka filafat pertamanya adalah pengetahuan tentang Allah. Allah adalah Kebenaran Pertama (al-Haqq al-Awwal), Yang Benar Tunggal (al-Haqq al-Wāhid) dan penyebab semua kebenaran. Dengan demikian corak filsafat al-Kindī adalah teistik, semua kajian tentang teori-teori kefilsafatannya mengandung pendekatan yang teistik. Untuk itu, sebelum memulai kajian tentang teori filsafat, ia membahas filsafat metafisika, dan konsep Tuhan
Argumentasi kosmologis tampaknya mendominasi pemikiran al-Kindī dalam menjelaskan ketuhanan. Bagi al-Kindī, Allah adalah Penyebab segalanya dan penyebab kebenaran. Untuk mengatakan bahwa Allah adalah penyebab segala kebenaran adalah sama saja dengan mengatakan bahwa Allah adalah penyebab dari semua ini. Sebab dari segala sebab itu adalah Allah. Sebab itu hanya satu, tidak mungkin banyak. Alam semesta berjalan secara teratur atas dasar sebab Dzat yang Satu. Sehingga konsep sentral dalam teologi Filsafat Pertamanya adalah tentang keesaan. Teologi filsafat al-Kindī memiliki dua aspek utama; pertama, membuktikan harus ada yang Satu yang Benar (the true one), yang merupakan penyebab dari segala sesuatu dan mendiskusikan kebenaran the True One ini
Pertama-tama al-Kindī menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa menjadi penyebabnya sendiri. Ia mengungkapkan, benda-benda di alam ini merupakan juz’iyyāt (particular). Kajian filsafat ketuhannannya bukanlah pada juziyyāt yang jumlahnya tak terbatas itu, akan tetapi yang paling penting dalam falsafahnya adalah hakikat dalam partikular itu, yakni kulliyāt (universal). Tiap-tiap benda memiliki dua hakikat, hakikat sebagai juz’i yang disebut al-aniyah dan hakikat kulli yang disebut māhiyah yakni hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan spesies. Lanjut membaca