METODE STUDY DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

filsafat Pendidikan pada umumnya dan Filsafat Pendidikan Islam pada khususnya, adalah bagian dari ilmu filsafat maka dalam mempelajari filsafat ini perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan masalah pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

Secara harfiah, filsafat berarti cinta kepada ilmu. Filsafat berasal dari kata philo yang artinya cinta dan sophos artinya ilmu/ hikmah. Secara histories, filsafat menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman yunani kuno sampai zaman modern sekarang.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian dari Filsafat Pendidikan Dan Filsafat Pendidikan Islam?
  2. Bagaimana Rene Descartes dalam menganalisis gejala alam?
  3. Apa sajakah metode yang dipergunakan dalam penyelidikan filsafat?

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Filsafat Pendidikan Dan Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya piker (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan manusia  biasa. Dari itu maka filsafat pendidikan dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan.[1]

Filsafat Pendidikan Islam adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkat serta dibimbing menjadi manusia muslim yang sedluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran islam, serta mengapa manusia harus dibina menjadi hamba Allah yang berkepribadian demikian.

Dilihat dari fungsinya, Filsafat Pendidikan Islam adalah pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan islam. Filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan.

B. Rene Descartes Dalam Menganalisis Gejala Alam

Menurut Rene Descartes, dia merasa akan dapat berpikir lebih luas bilamana ia berpikir berdasarkan metode yang rasionalistis untuk menganalisis gejala alam. Dengan pemikiran yang rasionalistis itu, orang mampu menghasilkan ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna seperti ilmu dan teknologi. Menurut Rene Descartes ada empat langkah berpikir yang rasionalistis sebagai berikut:

  1. Tidak boleh menerima begitu saja hal-hal yang belum diyakini kebenarannya
  2. Menganalisis dan mengklarifikasikan setiap permasalahan melalui pengujian yang teliti kedalam sebanyak mungkin bagian yang diperlukan bagi pemecahan yang adequat (memadai)
  3.  Menggunakan pikirean dengan cara diawali dengan menganalisis sasaran-sasaran yang paling sederhana dan paling mudah untuk diungkapkan.
  4. Dalam setiap permasalahan dibuat uraian yang sempurna serta dilakukan peninjauan kembali secara umum[2]

C. Metode Yang Dipergunakan Dalam Penyelidikan Filsafat

John Dewey, ahli filsafat Pendidikan USA, sedikit berbeda degan Descartes dalam hal metode/cara-cara yang dipergunakan dalam berpikir, meskipun sama rasionalistisnya, yaitu berpikir refleksi, suatu cara berpikir yang dimulai dari adanya problem-problem yang dihadapkan padanya untuk dipecahkan.[3] Kenyataan merupakan sduatu problem yang oleh para ahli filsafat dipandang sebagai problem besar, yang cara pemecahannya sebagai berikut: (menurut J. Dewey)

  1. Lebih dahulu harus menganalisis situasi secara hati-hati dan mengumpulkan semua fakta yang dapat kita peroleh
  2. Setelah melakukan Observasi, maka pemecahan yang diusulkan dan ditetapkan
  3. Melalui metode histories. Paara ahli piker dapat mendekatinya sampai tingkat tertentu yang wajar dengan menggunakan metode ini.[4]

Metode lainnya yang digunakan dalam Study Filasafat Pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Metode Analitis-Sintesis

Yaitu suatu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif dan deduktif serta analisis ilmiah.

Banyak ahli filsafat Yunani kuno mempergunakan metode berpikir Induktif. Seperti Thales, yang dengan menyaksikan air yang terdapat disemua likasi, semua makhluk, baik tumbuhan maupun binatang atau manusia yang dalam yubuhnya mengandung air. Gejala ini kemudian dijadikan kesimpulan bahwa segala yang maujud ini berasal dari air. Begitupun Anaximenes yang menganggap bahwa segala sesuatu yang maujud ini berasal dari udara.

Metode berpikir Induktif dapat disempurnakan dengan berpikir deduktuf, yaitu berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat umum menuju kearah yang bersifat khusus sebagai kesimpulan. Cara ini banyak didasarkan atas fenomena kehidupan dialam semesta, misalnya problema yang bernilai cultural edukatif dengan menggunakan premis-premis yang benar, diukur dengan kenyataan yang berlaku. Dapat disusun suatu silogisme sebagai berikut:

  1. Premis mayor : Bangsa yang ingin memperoleh kemajuan hidup, harus memperoleh pendidikan yang baik dan terencana
  2. Premis  minor : Bangsa Indonesia juga ingin memperoleh kemajuan
  3. Kesimpulan : Bangsa Indonesia harus memperoleh pendidikan yang baik
  1. Filsafat dipandang sebagai analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan konsep, maka metode pengungkapan permasalahannya pun menggunakan analisis bahasa dan analisis konsep. Analisis bahasa dan konsep itu dipandang oleh hamper semua ahli filsafat sebagai fungsi pokok yang sah dari filsafat.[5]

Analisis filosofis pada hakikatnya adalah terrdiri dari analisis Linguistik (bahasa) dan analisis konsep. Analisis bahasa digunakan untuk mengetahui arti yang sesungguhnya dari sesuatu, sedangkan analisis konsep adalah analisis kata yang dianggap kunci pokok yang mewakili suatu gagasan atau konsep. Kedua konsep tersebut tak dapat dipisahkan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Filsafat Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya piker (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan manusia  biasa. Dari itu maka filsafat pendidikan dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan

Filsafat Pendidikan Islam adalah pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan islam. Filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan.

Kenyataan merupakan sduatu problem yang oleh para ahli filsafat dipandang

sebagai problem besar, yang cara pemecahannya sebagai berikut: (menurut J. Dewey)

  1. Lebih dahulu harus menganalisis situasi secara hati-hati dan mengumpulkan semua fakta yang dapat kita peroleh
  2. Setelah melakukan Observasi, maka pemecahan yang diusulkan dan ditetapkan
  3. Melalui metode histories. Paara ahli piker dapat mendekatinya sampai tingkat tertentu yang wajar dengan menggunakan metode ini.

Metode lainnya yang digunakan dalam Study Filasafat Pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Metode Analitis-Sintesis adalah suatu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif dan deduktif serta analisis ilmiah
  2. Filsafat dipandang sebagai analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan konsep, maka metode pengungkapan permasalahannya pun menggunakan analisis bahasa dan analisis konsep. Analisis bahasa dan konsep itu dipandang oleh hampir semua ahli filsafat sebagai fungsi pokok yang sah dari filsafat

DAFTAR PUSTAKA

  • Arfifin Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara.. Jakarta, 2005
  • Ahmad Tafsir, Filsafat pendidikan Islam, Pt Remaja Rosda, Bandung, 2006
  • Nurcholis Madjid, Khasanah Intlektual Islam, Pt Bulan Bintang, Jakarta 1994
  • Ahmad Daudy, Kuliah filsafat Islam, Pt Bulan Bintang, Jakarta, 1989
  • Hasyimsyah, Filsafat Islam, Gaya Gramedia Pratama, Jakarta  1999

[1] John Dewey, Democracy and Education, p. 383

[2] Decartes, Descourse on Method, Part II, p. 15-16, Trans by John Veitch

[3] John Dewey, An Introduction to Rreflective Thinking, by Columbia Univercity Associates In Philoshophy

[4] George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, p. 64

[5] Harold H. Titus et .al., Living Issues in Philosophy, terjemahan persoalan-persoalan Filsafat , p.13.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s