Teknologi pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Teknologi Pendidikan.

Untuk mengetahui teknologi pendidikan maka kita harus mengetahui apa arti teknologi pendidikan menurut beberapa pakar pendidikan, karena pengertian dari satu pakar tidak akan membawa kepada pengertian yang konkrit dalam dunia pendidikan. Dan dikarenakan teknologi pendidikan itu sangat komplit maka butuh pengertian yang konkrit pula.

Mengacu dari kata-kata beberapa pengertian dari pakar ilmu pendidikan maka muncul beberapa pengertian di antaranya:

1.      Teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan dan penilaian system-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar  manusia. Dari pengertian ini yang diutamakan adalah proses belajar itu sendiri di samping alat-alat yang dapat membantu proses belajar.[1]

2.      Teknologi pendidikan yang dalam istilah bahasa inggrisnya adalah instructional technology atau educational technology. Salah satu pendapat ialah bahwa instructional technology means the media borm of the communications revulition which can be used for instructional purpode alongside the teacher, the book, and the blackboard. Dari pengertian ini yang diutamakan adalah media komunikasi yang berkembang sangat pesat seperti TV, radio, video dan lain-lain.

3.      Teknologi pendidikan adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan, penerapan metode problem solving dalam pendidikan yang dapat dilakukan dengan alat-alat komunikasi modern, akan tetapi juga tanpa alat-alat itu.

4.      Teknologi pendidikan adalah pemikiran sistematis tentang pendidikan, penerapan metode problem solving dalam pendidikan yang dilakukan dengan menggunakan hal-hal yang terkait dengan software (ide-ide atau konsep ilmiah dan sistematis )dan hardware (produk-produk teknologi).

5.      Dan pengertian teknologi pendidikan yang nomor lima ini sama dengan pengertian media pendidikan yaitu bahan dan alat yang terdiri dari perangkat software dan hardware dalam dunia pendidikan.[2]

Dari beberapa pengertian ini maka penulis memandang bahwa pengertian ini tidak mungkin dipisahkan atau salah satunya dianggap konkrit, tetapi pengertian satu dangan yang lain  saling melengkapi. Dan dapat mengambil pengertian bahwa teknologi pendidikan itu terdiri dari perangkat software dan hardware yang tidak diunggulkan salah satunya dan mengabaikan perangkat yang lain. Dan dari pengertian-pengertian ini dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan sama dengan media pendidikan, sehingga pada sub bab kedua tahapan perkembangan dan pengembangan teknologi pendidikannya akan banyak menjelaskan dari segi hardwarenya.

2.2. Tahapan Perkembangan Teknologi Pendidikan

Tahapan perkembangan teknologi pendidikan ini ditinjau dari perjalanan sejarah telah mengalami empat tahap perubahan atau perkembangan[3], hal ini dilihat dari penyajian pendidikan itu sendiri. Pertama adalah takkala dalam masyarakat tumbuh suatu profesi baru dalam dunia pendidikan yang disebut “guru” yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan mewakili orang tua. Dan guru inilah yang pada mulanya menerapkan teknologi pendidikan dari perangkat softwarenya yang pada masa ini masih tradisional dan sederhana. Dari peranan guru ini sehingga peranan pendidikan bergeser dari pendidikan rumah menjadi pendidikan sekolah secara formal. Perkembangan kedua dimulai dengan dipergunakannya bahasa tulisan di samping bahasa lisan dalam penyajian pendidikan. Pada perkembangan ini teknologi pendidikan mulai menggunakan perangkat hardwarenya meskipun masih sangat sederhana seperti alat tulis. Perkembangan yang ketiga terjadi dengan ditemukanya teknik percetakan yang memungkinkan diperbanyaknya bahan-bahan bacaan dalam bentuk buku-buku teks sebagai materi pendidikan, dan saat inilah teknologi pendidikan mulai dipergunakan dari segi software beserta hardwarenya semakin konkrit dan teratur. Perkembangan yang keempat terjadi dengan ditemukannya teknologi berikut produknya yang menghasilkan alat-alat mekanis,optis maupun elektronis sehingga teknologi pendidikan sudah memakai erangkat software dan hardware secara sempurna dan modern yang sesuai dengan kemampuan pendidik sehingga proses pendidikan semakin maju pesat seiring dengan perkembangan zaman. Tahapan perkembangan ini tidak memilh dari segi teknologi pendidikan software atau dari perangkat yang lain tetapi sudah memadukannya dengan sangat baik.

Adapun tahapan perkembangan berikut ini banyak membahas perkembangan teknologi pendidikan dari segi hardwarenya. Akan tetapi ini semua tergantung pada kita dalam mengambil pengertian perkembangan yang luas dari uraian berikut ini!

Kalau kita lihat perkembangannya pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (tesching aids) saja. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual dan alat lainnya yang dapat memberi pengalaman konkret dalam pendidikan, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan reteusi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek desain, pengembangan pembelajaran produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke 20 alat visual untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan digunakannya alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).[4]

Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Sejak saat itu alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media. Teori ini sangat penting dalam penggunaan media untuk kegiatan program-program pendidikan, sayang sampai saat itu pengaruhnya masih terbatas pada pemilihan media saja. Faktor siswa yang menjadi komponen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian.

Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism theori) ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Dan pada tahun 1965-1970 pendekatan sistem (system appoach) yang berkembang saat itu mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran.[5] Demikian tahapan perkembangan teknologi pendidikan yang dapat penulis uraikan.

2.3. Tahapan Pengembangan Teknologi Pendidikan

Dengan didasarkan pada pengertian teknologi pendidikan yang bermacam-macam di atas maka pemakalah akan menguraikan tahapan pengembangan teknologi pendidikan dari segi hardwarenya yang banyak digunakan oleh sekolahan-sekolahan yang sudah maju dan modern. Dalam hal ini, multimedia yang sangat banyak digunakan karena perbedaan tingkat kecerdasan siswa atau karena makin majunya teknogi yang menuntuki pendidik makin kreatif dan aktif dalam menyikapinya. Tahapan pengembangan multimedia pembelajaran ini mencakup, yaitu:

a. Tahapan Analisis

Tahapan ini disebut juga tahapan pra produksi. Pengkajian materi dan metodologi yang tepat dalam menentukan jenis multimedia yang akan diproduksi harus dikaji secara matang, karena setiap mata pelajaran, bahkan dalam setiap kompetensi dasar  memiliki karakteristik tersendiri dalam penyajiannya. Oleh sebab itu, maka Rancangan Program Pembelajaran (RPP) harus terlebih dahulu dikerjakan, baru selanjutnya menganalisis serta menentukan jenis multimedia yang tepat untuk dikembangkan, apakah hanya berbentuk Presentasi Pembelajaran, atau memang harus disampaikan dengan cara simulasi serta animasi, seperti penggambaran peristiwa terbentuknya gunung berapi, misalnya.

Bidang kajian yang termasuk dalam tahapan ini antara lain;

1. Analisis Kebutuhan

Materi yang disajikan harus cukup dan cakup. Materi yang cukup tapi dikaji secara mendalam akan memberikan informasi yang memuaskan dibandingkan banyaknya materi yang disajikan namun dangkal dalam kupasan. Hal yang juga menjadi pertimbangan adalah tidak seluruh materi pelajaran cocok untuk dijadikan multimedia pembelajaran. Kalau benda yang sebenarnya memungkinkan untuk dapat dibawa ke dalam kelas, tidak berbahaya, mampu dilihat secara kasat mata, mengapa harus dimultimedia-kan. Bahkan untuk penggambaran hal-hal yang paling sederhana dan penegasan pada poin-poin tertentu, papan tulis juga masih tidak terlalu ketinggalan zaman.

2. Analisis instruksional

Kejelasan sasaran, kejelasan tujuan pembelajaran, kejelasan uraian materi, pemberian latihan dan umpan balik, pemanfaatan aspek pedagogis, ketepatan evaluasi, konsistensi antara tujuan, materi dan evaluasi, ketepatan contoh, ilustrasi, analogi, dll, harus dianalisis secermat mungkin.

3. Garis Besar Isi Program (GBIP)

Penentuan garis besar isi program multimedia harus dipetakan agar tidak melebar dalam kupasan materi. Storyboard dalam hal ini sangat membantu sekali guna memberi gambaran kepada pengembang multimedia dalam merancang setiap jendela materi.

b. Tahapan Desain

Kemampuan estetika dalam tahapan desain sangat dominan karena akan berdampak kepada perwajahan dari media tersebut. Penerapan ilmu komposisi, mulai dari komposisi garis, bidang, warna, tekstur, dimensi (kedalaman), serta penentuan jenis font, penggarapan icon, button, banner, harus dirancang secermat mungkin.

Tahapan desain bukan sekedar merancang multimedia tersebut agar telihat ‘eye catching’, namun lebih dari itu, juga harus dikaji dari sisi psikologis user, apakah ditujukan untuk anak-anak atau remaja. Demikian juga dengan pemilihan image, video, audio, disesuaikan dengan nilai-nilai kependidikan.

Multimedia yang baik juga diorientasikan agar user friendlyness, mudah dioperasionalkan agar tidak membingungkan pemakai, maintanable, mudah untuk direvisi agar informasi yang baru

c. Tahapan Produksi

Tahapan produksi mencakup penulisan script, penentuan serta pemilihan software pemrograman yang tepat, pengembangan logika pemrograman, test dan debugging, untuk menghasilkan pre master yang terus disempurnakan (field testing and revising), sebelum akhirnya dikemas secara utuh (packaging).

d. Tahapan Implementasi

Tahapan ini berhubungan erat dengan pengguna (user). Sejauh mana media tersebut tepat guna dan tepat sasaran, haruslah diujicobakan terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan revisi pada bahagian-bahagian yang dirasa perlu, seperti trubleshooting, penulisan istilah, dan sebagainya, sebelum diproduksi secara massal.

Sehingga dari tahapan yang sudah bisa dianggap konkrit ini maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan media bahan ajar berbasis multimedia sangat dibutuhkan pada saat sekarang ini. Oleh karena itu sudah sangat mendesak juga bagi guru mata pelajaran mengembangkan medianya berdasarkan teknologi informasi komunikasi ini.

Untuk menjaga kebenaran substansi materi, kecakupan dan kecukupan, pemakaian istilah, visualisasi contoh, kontekstual serta aktualitas, selayaknya multimedia pembelajaran tersebut dikembangkan oleh guru bidang studi masing-masing. Walaupun bahan ajar mengacu kepada kurikulum yang dikembangkan oleh Forum Komunikasi Guru Mata Pelajaran, baik di tingkat sekolah maupun kabupaten/kota, dari segi teknis penyampaian bisa saja terjadi perbedaan pada masing-masing guru.

Dengan demikian, guru dewasa ini sepertinya harus memiliki multi talenta, tidak hanya dituntut terampil dalam penyusunan rencana program pembelajaran, namun juga menguasai bagaimana menerjemahkan RPP tersebut menjadi script multimedia. Penguasaan aplikasi software pengolah teks, grafik, audio, video, animasi, logika pemrograman serta pengetahuan tentang prinsip-prinsip desain dalam audio visual art, sudah harus dilatih dan dicoba sesering mungkin guna mewujudkan multimedia pembelajaran bagi siswa-siswanya, agar tercapai pembelajaran yang asyik dan menyenangkan. dan up to date dapat di input sewaktu-waktu. Demikian tahapan pengembangan teknologi pendidikan yang dapat dituliskan dalam makalah ini.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang masalah.

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berperan menciptakan lingkungan belajar bagi para peserta didik untuk mencapai pendidikan yang baik. Sekolah perlu menyusun suatu program yang tepat yang tentunya harus didukung oleh tim pendidik yang memenuhi sifat-sifat pendidik yang telah ditentukan dalam suatu pendidikan, sehingga memungkinkan peserta didik melakukan kegiatan belajar secara efisien dan sampai pada tujuan yang diharapakan.

Dan dalam makalah ini, untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka saya akan berusaha mengulas sebagian pendukung untuk tercapainya tujuan tersebut, yakni tentang variasi dalam mengajar, yang dalam hal ini pendidiklah yang sangat berperan dalam mengatur variasi yang tepat dan baik bagi peserta didik.

1. 2. Perumusan masalah.

  1. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi aspek apa saja?
  2. Apa tujuan variasi mengajar?
  3. Apa saja prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar dan mengapa prinsip-prinsip itu perlu diterapkan?

1. 3. Tujuan pembahasan masalah.

Adapun pembahasan masalah dari makalah ini, diharapkan pembaca dapat:

  1. Menyebut beberapa aspek dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar.
  2. Mengetahui tujuan variasi mengajar.
  3. Menyebutkan prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar dan tujuan diterapkannya prinsip-prinsip tersebut.

1. 4. Batasan masalah.

Pembahasan dalam makalah ini berkisar tentang tujuan penggunaan variasi belajar mengajar dalam lembaga pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

2. 1. Aspek-Aspek dalam Mengadakan Variasi Belajar Mengajar.

Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam melakukan segala kegiatan. Sehingga orang akan selalu berusaha untuk memperoleh kehidupan yang penuh variasi (pergantian atau perubahan)[1] yang positif. Tidak lepas dari tujuan itu, dalam proses belajar mengajar juga mempunyai tujuan yang sama, sehingga para pendidik dituntut untuk mengembangkan variasi dalam mengajarnya.

Dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran dan variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.

Dengan dikombinasikannya ketiga komponen atau aspek dalam penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian peserta didik, membangkitkan keinginan dan kemauan belajarnya. Dengan sebab itu, maka diharapkan tujuan pendidikan tercapai. Aspek atau komponen yang dimaksud dalam pembahasan ini dapat diperdalam dengan penjelasan berikut:

1. Variasi gaya mengajar.

Variasi ini meliputi variasi suara, variasi gerakan anggota badan dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Perilaku guru dalam mengadakan variasi tersebut dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan peserta didik, menarik perhatian peserta didik, menolong penerimaan bahan pengajaran dan memberikan stimulasi (dorongan atau pemberi semangat). Variasi dalam gaya mengajar ini adalah:

  1. Variasi suara.
  2. Penekanan (focusing).
  3. Pemberian waktu (pausing).
  4. Kontak pandang.
  5. Gerakan anggota badan (gesturing).
  6. Rendah posisi.

2. Variasi  media dan bahan ajaran.

Tiap peserta didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih enak atau lebih senang membaca, ada yang lebih senang mendengar dulu baru membaca, dan ada yang sebaliknya. Dengan variasi penggunaan media –­­­­­­­­­­­­­ media adalah wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan[2] ­­­-­­­­­­­­­­­ kelemahan indra yang dimiliki tiap peserta didik misalnya, guru dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian  menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulus terhadap peserta didik. Yang mana media mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar mengajar yang tidak bisa ditinggalkan, karena media dapat[3]: 1. Menghemat waktu belajar, 2. Memudahkan pemahaman, 3. Meningkatkan perhatian siswa, 4. Meningkatkan aktivitas siswa. 5. Mempertinggi daya ingat siswa.

Ada tiga komponen dalam variasi penggunaan media, yaitu media pandang, media dengar dan media taktil. Ketiga komponen tersebut dapat diperjelas sebagai berikut:

a. Variasi media pandang.

Penggunaan media pandang dapat diartikan  sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi, sperti buku, majalah, globe, peta, majalah dinding, film, film strip, TV, Radio, tape recorder, gambar grapik, model, dukumentasi, dan lain-lain. Penggunaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut akan memiliki keuntungan:

1. Membantu secara konkrit konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat.

2. Memiliki secara potensial perhatian peserta didik pada tingkat yang tinggi.

3. Dapat memberi hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri peserta didik.

4. Mengembangkan cara berpikir yang berkesinambungan, seperti halnya dalam film.

5. Memberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat lain.

6. Menambah frekuensi kerja, lebih dalam dan variasi belajar.

b. Variasi media dengar.

Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di kelas, suara guru adalah alat utama dalam berkomunikasi. Variasi dalam penggunaan media sangat memerlukan saling bergantian atau kombinasi dengan media pandang dan media taktil. Sudah barang tentu ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu, di antaranya ialah pembicaraan peserta didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman  drama, wawancara, bahkan rek suara ikan lumba-lumba, yang semua itu dapat memiliki relevansi dengan pengajaran.

c. Variasi media taktil.

Komponen terakhir dari keterampilan menggunakan variasi media dan bahan ajaran adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan peserta didik dalam kegiatan menyusun pembuatan model, yang hasilnya dapat disebut sebagai media taktil.

3. Variasi interaksi.

Yang dimaksud dengan variasi interaksi ialah frekuensi atau banyak-sedikitnya pergantian aksi antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa secara tepat[4]. Yang mana interaksi dalam suatu kegiatan belajar mengajar merupakan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga apabila tidak ada interaksi dalam suatu kegiatan belajar mengajar maka merupakan ketidakwajaran yang harus diperbarui dengan cepat dan baik.  Variasi dalam pola interaksi antara guru dan peserta didiknya memiliki rentangan yang bergerak dari dua kutub, yaitu:

  1. Peserta didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru.
  2. Peserta didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru, di mana guru berbicara kepada peserta didik.

Di antara kedua kutub itu hanya memungkinkan dapat terjadi. Misalnya guru berbicara dengan kelompok kecil peserta didik melalui mengajukan beberapa pertanyaan atau guru menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga antara peserta didik dapat saling bertukar pendapat melalui penampilan diri, demontrasi atau diskusi. Variasi interaksi mempunyai keuntungan misalnya suasana kelas menjadi hidup dan beberapa hal dapat dengan cepat diketahui misalnya: kebutuhan dan minat siswa, seberapa jauh mata pelajaran dapat diterima/dipahami/diketahui oleh siswa, kekurangan/kesalahan kopsep pada siswa, kekurangan/kesalahan guru, perhatian siswa, sikap siswa terhadap beberapa aspek yang sedang dipelajari, dan ada tidaknya kontak antara guru dan siswa.

Bila guru berbicara dapat melalui beberapa kategori: filling persetujuan, penghargaan atau peningkatan, menggunakan pendapat peserta didik , bertanya, berceramah, memberi petunjuk, dan mengkritik. Sebaliknya peserta didik dapat berbicara melalui pemberian respon dan pengambilan prakarsa. Bila guru memberikan pertanyaan dapat juga bervariasi sesuai dengan domain kognitif dari bloom. Pertanyaan dapat ditujukan ke seluruh peserta didik yang ada di kelas atau ditujukan kepada peserta didik individual. Bila dilihat dari sudut kegiatan peserta didik, maka dapat dibentuk: mendengarkan ceramah guru, mengajukan pendapat pada diskusi kelompok kecil, bekerja individual atau kerja kelompok, membaca secara keras atau secara pelan, melihat film, bekerja dilaboratorium, baik bahasa maupun alam, bekerja atau belajar bebas, atau dapat juga menciptakan kegiatan sendiri.

2. 2. Tujuan Variasi Mengajar.

Setelah membahas komponen variasi mengajar, maka makalah ini berikutnya akan membahas tujuan variasi mengajar itu sendiri. Tujuan variasi mengajar ini adalah:

1. Meningkatkan dan memelihara perhatian peserta didik terhadap relevansi proses belajar mengajar.

2. Memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi.

3. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.

4. Memberikan kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual.

5. Mendorong peserta didik untuk belajar.

2. 3. Prinsip Penggunaan Variasi.

Semua guru pasti mengharapkan peserta didiknya tetap bergairah dan senang akan pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut. Untuk mencapai harapan tersebut maka perlu menciptakan suasana lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya untuk menciptakan kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Beberapa prinsip penggunaan variasi mengajar sangat penting untuk diperhatikan dan betul-betul dihayati guna mendukung pelaksanaan tugas mengajar di kelas. Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar itu adalah sebagai berikut:

1.      Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar.

2.      Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga moment proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian peserta didik dan proses belajar tidak terganggu.

3.      Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan penggunaan yang luwes, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari peserta didik. Biasanya bentuk umpan balik ada dua, yaitu:

  1. Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan peserta didik.
  2. Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran.

Demikian pembahasan dalam makalah ini mulai dari aspek-aspek dalam penggunaan variasi, tujuan penggunaan variasi, sampai tentang prinsip-prinsip dalam penggunaan variasi itu sendiri. Yang mana tujuan pembahasan ini untuk menciptakan lingkungan belajar mengajar yang kondusif, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik dan universal.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpualan.

  1. Variasi mengajar sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru guna tercapainya tujuan pendidikan.
  2. Dalam penggunaan variasi mengajar perlu bagi seorang guru untuk memperhatikan prinsip-prinsip dalam mengadakan variasi mengajar.
  3. Untuk mengadakan variasi yang baik perlu dilengkapi oleh media yang menunjang kegiatan belajar mengajar.
  4. Tujuan mengadakan keterampilan variasi mengajar adalah untuk menciptakan lingkungan belajar mengajar yang menarik dan kondusif, sehingga dapat menarik perhatian peserta didik terhadap materi yang diberikan.
  5. Guru yang Cuma menguasai materi pelajran saja tanpa menguasai metode dan variasi mengajar yang baik, maka kegiatan belajar mengajar akan terasa kaku dan sulit materi yang diberikan dapat diterima dengan maksimal.

B. Saran dan kritik

Dengan segala upaya dan tenaga saya panjatkan piji kehadirat Allah swt yang telah memberikan pertolongan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas perkuliahan yaitu berupa tugas pembuatan makalah. Dengan rasa rendah hati saya sebagai manusia biasa yang lemah dan penuh dengan kesalahan, maka saya mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak, yang sifatnya membantu dan membangun demi tercapainya  makalah yang lebih baik pada tugas berikutnya. Dan terakhir  saya sampaikan terimakasih kapada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

-          A Partanto, Pius dan Dahlan al Barri, M. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, Arkola, 1994.

-          Bahri Djamarah, Syaiful, dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Renika Cipta, 2006.

-          Sardiaman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, PT RajaGrafindo Persada, 2007.


[1] Pius A Partanto dan M. Dahlan al Barri, Kamus Ilmiah Populer, Arkola Surabaya.

[2] Drs. Syaiful Bahri Djamarah dan Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Renika Cipta, Jakarta, hal. 120

[3] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengaja, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007. Hal. 205

[4] Ibit, Hal. 207


Prof. Dr. Nasution,

[2] Dr. Arief S. Sadiman, M.Sc,dkk, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 6

[3] Dr. Nana Sudjana dan Drs. Ahmad Rival, Teknologi Pendidikan, Sinar Baru, Bandung, hal. 41

[4] Dr. Arief S. Sardiman, M.Sc, dkk, ibid, hal. 7

[5] Ibid, hal. 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s