Pendidik Pencetak Manusia Utuh


Manusia utuh dalam bahasa Arab sering kali di identikkan manusia “kamil” yakni seorang individu yang mempunyai kepribadian kecerdasan spiritual(SQ) intlektual(IQ) dan emosional(EQ). Sehingga Pada masa yang akan datang manusia inilah yang akan menjadi khalifah Allah terbaik dimuka bumi ini, yang senantiasa akan membawa kesejahteraan dan rahmat bagi seluruh alam.

tentu saja untuk mencapai tingkat manusia utuh tidaklah sangat mudah, melainkan melalui proses pendidikan yang harus dilalui satu persatu dengan berpartisipasinya seorang pendidik. Karena didalam dunia pendidikan baik itu yang bersifat formal maupun non formal membutuhkan kehadiran seorang pendidik.Tapi siapakah yang begitu berperan besar terhadap terciptanya manusia utuh? Apakah lembaga sekolah atau pendidkan yang bersifat kekeluargaan ( orang tua)?. Lembaga sekolah hanyalah sebagai pencetak kecerdasan intlektual yang dapat dipergunakan untuk mengahadapi berbagai masalah, walaupun seorang anak sudah masuk pada lembaga sekolah belum tentu perilakunya akan sesuai dengan sendi-sendi Islam dan tatanan sosial karena didalam lembaga sekolah hanyalah mencetak kecerdasan intlektual, hanya saja lembaga sekolah sebagai salah satu proses atau komponen untuk mencapai manusia utuh.

Kedudukan orang tua merupakan langkah awal untuk menciptakan manusia utuh, karena ditangan orang tualah kecerdasan spiritual ( beriman dan bertaqwa pada Allah ) akan terbentuk. jadi orang tua tidak sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak asuhnya pada lembaga sekolah tanpa ikut berpartisipasi dalam pendidikan.

hanyalah pencetak kecerdasan intlektual, jika memang sang orang tua tidak mampu mendidiknya, maka seharusnya sang anak dapat di serahkan kepada lingkungan ( pondok pesantren) untuk di didiknya sebagai ganti dari pada orang tua tersebut. Seorang anak sangat diperlukan memiliki kecerdasan spiritual, karena kecerdasan spiritual merupakan sebuah prioritas untuk menciptakan pola pikir dan tingkah laku yang sesuai dengan tatanan agama sehingga sianak dapat dapat berbuat dan bertindak sesuai dengan tatanan agama yakni beriman, bertaqwa pada Allah dan berpola pikir positif sesuai alur aturan ajuran agama.

memang sewajarnya bila ada anak yang tidak mendapat perhatian yang penuh dari orang tuanya, yang pada kemudian anak tersebut berbuat sewenang-wenang yang menyalahi aturan agama dan tatanan sosial, meskipun ia masuk pada jenjang pendidikan ( sekolah ), dikarenakan ia tidak mendapatkan pembentukan kecerdasan spiritual yang melekat dalam dirinya, melainkan ia hanya mendapatkan kecerdasan intlektual yang biasa diberikan oleh sekolah.

Manusia denga Allah SWT diciptakan dengan berbagai keistimewaan. Dan diantara keistimewaan itu ialah manusia sebagai makhluk Homo Safien ( makhluk yang berbudi), akan tetapi kestimewaan yang dianugrahi sang ilahi tersebut tidak akan terwujud tanpa melalui jalur pendidikan, salah satunya dengan pendidikan sang orang tua, sebab orang tua merupakan orang yang selalu berdekatan dengan sang anak pada setiap saat, sehingga si anak dapat memperoleh penanaman keimanan dan ketaqwaan yang sejati.

Dan juga salah satu keistiwaan manusia ialah manusia sebagai Homo Faber ( makhluk yang mampu berfikir) untuk memenuhi keitimewaan tersebut lembaga sekolahlah yang paling efisien untuk menciptakannya, sebab pada sebuah lembaga sekolah sang anak didik sering kali dihadapkan berbagai macam permasahan dan problem yang harus diselesaikan, yang secara otomatis dapat mengasah daya pikir anak. Pencetakan kecerdasan spiritual saja tentunya tidak cukup atau tidak akan disebut sebagai manusia utuh karena setiap individu tidak terlepaskan dari berbagai masalah dalam kehidupannya, kercerdasan intlektuallah satu-satunya sebagai alat motorik untuk menghadapi dan memecahkan berbagai masalah yang sedang di hadapinya, keduanya harus saling melengkapi.

Jalan terakhir untuk mencapai manusia utuh ialah diperlukannya pembentukan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan hal-hal yang berkenaan dengan perasaan, tidak tertentu pada marah saja malainkan secara keseluruhan dari berbagai perasaan, baik itu kasih sayang, toleransi, perhatian, senang, susah saling tolong menolong, bergaul dengan baik Dll, yang lumrah mempengaruhi timbulnya pada sifat ini, adanya rasa kesadaran diri dari individu, yakni pada saat masa Dewasa (20 th ke atas). tetapi hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan yang berjalan pada tahap sebelumnya, yang mengaitkan pendidikan orang tua dan lembaga sekolah. ), bila ada anak yang dibawah batasan tersebut sudah mencapai tingkat kecerdasan emosional, ia sudah luar biasa

“Orang tua tidak harus menyerahkan pendidikan anak didiknya sepenuhnya kepada lemabaga sekolah, Pendidikan sekolah hanyalah sebagai pencetak kecerdasan intlektual, yang dapat dipergunakan memecahkan berbagai macam permasalahan, melainkan orang tua harus berpartisipasi di dalam mendidik anaknya. Maka dengan demikian, prioritas utama untuk menciptakan manusia utuh berada pada pendidikan orang tua,”

One thought on “Pendidik Pencetak Manusia Utuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s