ANALISIS SEJARAH ILMU NAHWU


I. LATAR BELAKANG TIMBULNYA ILMU NAHWU

1.Penyusun Ilmu Nahwu Orang arab pada dasarnya mempunyai dua keahlian berbahasa arab, yakni bahasa dialek dan bahasa fasih. Bahasa dialek digunakan sebagai bahasa percakapan dalam kehidupan seahri-hari misalnya seperti sedang berkumpul dengan keluarganya,  dalam urusan mu’amalat sedangkan pada saat tertentu mereka harus menggunakan bahasa yang fasih, mereka pun sanggup melakukannya secara sempurna. Al-Qur’an dan sabda Nabi juga disampaikan dalam bahasa Arab yang fasih. ketika ummat islam  berhasil melakukan ekspansi keberbagai kedaerah non arab, Mulai dari  masa umar Bin Khattab sampai Ustman Bin affan. disitu dapat dipastikan orang arab harus berinteraksi dengan kalangan non arab. Akibat dari perkumpulan secara intens tersebut dan dalam waktu yang lama, bahasa arab mulai terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain. Yang mengalami kekeliruan didalam mengucapkan bahasa yang fasih ( alqdur’an dan hadist) bukan dari kalangan awam saja melainkan dari kalangan orang arab sendiri mengalami kekeliruan. Pada masa umar Bin Khattab sampai Ustman Bin affan belum ada tindakan untuk menyusun kaidah Qowaid Nahwiyah.

Awal mula dibentuknya ilmu nahwu ini ialah.  pada masa pemerintahan khalifah Ali Bin Abi thalib wilayah kekuasaan islam melampaui sungai eufrat, tigris dan Dariyah, semakin luasnya wilayah yang dikuasai oleh islam pada saat itu, semakin banyak pulalah pemeluk agama islam. Pemeluk agama islam bukan hanya dari kalangan arab saja tapi dari dalam kalangan non arab sendiri juga banyak. Maka disitulah  ditemukan kesalahan-kesalahan  di membaca teks  Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber ajaran islam.   khalifah Ali Bin Abi thalib menganggap  kesalahan-keslahan ini sangat fatal terutama bagi orang-orang  yang akan mempelajarai ajaran islam dari sumber aslinya yang berbahasa arab, oleh karena itu khalifah Ali Bin Abi thalib mempunyai inesiatifnya untuk menyusun Qowaid Nahwiyah dengan memerintahkan seorang muridnya yakni Abu Aswad Al Duali.

orang yang pertama menyusun ilmu nahwu ialah Abu Aswad Al-Duali. Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad Ad-Duali, bahwasanya ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anak perempuannya pada malam hari, sang anak mendongakkan wajahnya ke langit dan memikirkan tentang indahnya serta bagusnya bintang-bintang. Kemudian ia berkata, مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ . “Apakah yang paling indah di langit?”. Dengan mengkasrah hamzah, yang menunjukkan kalimat tanya.
Kemudian sang ayah mengatakan, نُجُوْمُهَا يَا بُنَيَّةُ . “Wahai anakku, Bintang-bintangnya”.
Namun sang anak menyanggah dengan mengatakan, اِنَّمَا اَرَدْتُ التَّعَجُّبَ . “Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”.
Maka sang ayah mengatakan, kalau begitu ucapkanlah, مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ . “Betapa indahnya langit”. Bukan, مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِ . “Apakah yang paling indah di langit?”. Dengan memfathahkan hamzah…                                                                                                Dikisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan, أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di fathakan. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..”
Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan.

Seharusnya kalimat tersebut adalah, أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad-Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang.

2.Munculnya Istilah Nahwu Dari kejadian Diatas aswad menceritakan kepada ali bin abi thalib. Mendengar perkataan aswad beliau berkata ketahuilah “ketahyuilah aswad ini terjadi karena percampuran bahasa arab dan bahasa asing . kemudian ali  bin thalib menyuruh kepada aswad untuk membeli kertas. Setelah selang beberapa hari ali bin abi thalib mengajarkan tentang  lughaot-lughot bahasa arab.  Beliau menyuruh kepada aswad untuk mencatatnya. Yang pertama kali beliau ajarkan adalah masalah pembagian kalam yang jumlahnya ada tiga bagian yaitu : Isim, Fiil, dan Huruf. Kemudian beliau menjelaskan tentang jumlah yang menjadi sighot ta’ajub. Setelah itu sayyidina Ali memerintahkan kepada Abul Aswad agar mencari contoh-contoh lain yang sama dengan apa yang diajarkan oleh beliau. Dari sinilah ilmu ini kemudian dinamakan ilmu nahwu yang artinya contoh atau misal.
Dalam perkembangan berikutnya Abul Aswad mengumpulkan masalah-masalah yang termasuk dalam pembahasan Ilmu Nahwu yang diantaranya adalah huruf-huruf yang bisa beramal   menashobkan   isim.

3.Tujuan Disusunnya Ilmu Nahwu Tujuan utama penyusunan ilmu nahwu ialah agar bahasa Arab yang fasih tetap terjaga sehingga Al-Qur’an dan hadits Nabi juga terjaga dari kesalahan. Dan pemeluk agama islam yang berasal dari kalangan bukan arab seperti kita-kita, dapat mempelajari Al-Qur’an dan Hadist secara benar untuk dijadikan sumber hukum islam. Di sisi lain, ilmu nahwu juga bisa dipakai sebagai sarana untuk mengungkap keajaiban bahasa Al-Qur’an (اعجاز القرآن)

II.PERKEMBANGAN ILMU NAHWU DARI MASA KE MASA

1. Periode Perintisan dan Penumbuhan (Periode Bashrah) Perkembangan pada periode ini berpusat di Bashrah, dimulai sejak zaman Abul Aswad sampai munculnya Al-Khalil bin Ahmad, yakni sampai akhir abad kesatu Hijriyah. Periode ini masih bisa dibedakan atas dua sub periode, yaitu masa kepeloporan dan masa pengembangan. Masa kepeloporan tidak sampai memasuki masa Daulah Abbasiyah. Ciri-cirinya ialah belum munculnya metode qiyas (analogi), belum munculnya perbedaan pendapat, dan masih minimnya usaha kodifikasi. Adapun ciri-ciri masa pengembangan ialah makin banyaknya pakar, pembahasan tema-temanya semakin luas, mulai munculnya perbedaan pendapat, mulai dipakainya argumen dalam menjelaskan kaidah dan hukum bahasa, dan mulai dipakainya metode analogi.

2. Periode Ekstensifikasi (Periode Bashrah-Kufah) Periode ini merupakan masa ketiga bagi Bashrah dan masa pertama bagi Kufah. Hal ini tidak terlalu mengherankan, sebab kota Bashrah memang lebih dulu dibangun daripada kota Kufah. Pada masa ini, Bashrah telah mendapatkan rivalnya. Terjadi perdebatan yang ramai antara Bashrah dan Kufah yang senantiasa berlanjut sampai menghasilkan apa yang disebut sebagai Aliran Bashrah dengan panglima besarnya Imam Sibawaih dan Aliran Kufah dengan panglima besarnya Imam Al-Kisa’i. Pada masa ini, ilmu nahwu menjadi sedemikian luas sampai membahas tema-tema yang saat ini kita kenal sebagai ilmu sharf.

3. Periode Penyempurnaan dan Tarjih (Periode Baghdad) Di akhir periode ekstensifikasi, Imam Al-Ru’asi (dari Kufah) telah meletakkan dasar-dasar ilmu sharf. Selanjutnya pada periode penyempurnaan, ilmu sharf dikembangkan secara progresif oleh Imam Al-Mazini. Implikasinya, semenjak masa ini ilmu sharf dipelajari secara terpisah dari ilmu nahwu, sampai saat ini. Masa ini diawali dengan hijrahnya para pakar Bashrah dan Kufah menuju kota baru Baghdad. Meskipun telah berhijrah, pada awalnya mereka masih membawa fanatisme alirannya masing-masing. Namun lambat laun, mereka mulai berusaha mengkompromikan antara Kufah dan Bashrah, sehingga memunculkan aliran baru yang disebut sebagai Aliran Baghdad. Pada masa ini, prinsip-prinsip ilmu nahwu telah mencapai kesempurnaan. Aliran Baghdad mencapai keemasannya pada awal abad keempat Hijriyah. Masa ini berakhir pada kira-kira pertengahan abad keempat Hijriyah. Para ahli nahwu yang hidup sampai masa ini disebut sebagai ahli nahwu klasik.                                                   Setelah tiga periode diatas, ilmu nahwu juga berkembang di Andalusia (Spanyol), lalu di Mesir, dan akhirnya di Syam. Demikian seterusnya sampai ke zaman kita saat ini.

2 thoughts on “ANALISIS SEJARAH ILMU NAHWU

    • emang sengaja tidak ku sebutin refrensinya mas, biar g diupload ma mahasiswa he he he kalau kalau mas mau tau tidak usah jauh2 coba saja lihat buku paket tingkatan MTs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s