Istimbath Para Mujtahid


Oleh             : Rokhim

Mahasiswa Stit Ibnu Sina


Pendahuluan

Allah menurunkan agama islam kebumi tentunya penuh dengan aturan-aturan , aturan tersebut berupa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul-Nya, dimana diturunkannya wahyu tersebut untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi manusia pada masa itu( As-Babun Nuzul). Tapi bila ada masalah yang dihadapi manusia sementara Allah tidak menurunkan wahyu, Maka Nabi Muhammad memutuskan masalah tersebut dengan sabda-sabdanya yang dijamin kebenararnya kemudian sabda-sabda rosul tersebut dinamakan Sunnah Setelah kewafatan Nabi Muhammad SAW para sahabat beriijtihad dengan sendirinya, karena timbulnya permasalahan yang baru, yang tidak ada didalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad ulama’ Tersebut disebut ijma. Namun karena persoalan hukum yang dihadapi oleh umat Islam selalu berkembang dan merupakan persoalan hukum baru, di mana dalam Al-Qur’an, Al-Sunnah dan ijma’ para sahabat tidak ditemukan hukumnya, maka para ulama dalam mengagali hukumnya, memakai beberapa metode istinbath hukum, diantaranya; maslahah-mursalah atau istislah yang digunakan oleh Imam Malik , Istihsan (yang dipakai oleh Imam  Hanafi), qiyas (yang dipakai Imam Syafi’i), istishab (yang dipakai Imam Ahmad bin Hambal) dan lain sebagainya. Berikut ini akan diuraikan secara singkat tentang penjelasan istimbat dari masing-masing ulama mujtahid


Menurut bahasa, istihsan berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama ushul fiqh, ialah berpindahnya seorang Mujtahid dari ketentuan qiyas jali menuju qiyas khofi atau berpindahnya berpindahnya seorang mujtahid dari hukum yang bersifat umum kepada hukum yang bersifat pengecualian. Jadi singkatnya, istihsan adalah tindakan meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya disebabkan karena ada suatu dalil syara” yang mengharuskan untuk meninggalkannya.

Contoh bila seseorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian, sedangkan hasilnya untuk perjuangan islam seperti pembangunan masjid, madrasah dan pondok pesantren, maka menurut Abu Hanifah dengan istihsannya , hasil pertanian tadi boleh dibuat jalan agar mudah dalam transportasinya pengairan tanah tersebut dan pupuk agar lebih subur tanahnya dan lain-lain. Karena hal tadi diqiyaskan dengan sewa-menyewa. Pada sewa menyewa yang penting ialah berpindahnya hak memperoleh manfaat. Dan jika diqiyaskan dengan jual beli tentunya hal yang demikian tidak akan tidak bisa, karena didalam jual beli pemindahan kepemilikan. Nah berpindahnya diqiyaskan dari jual beli terhadap sewa -menyewa tersebut dinamakan istihsan, dengan tujuan untuk memperoleh yang terbaik dan kemanfaatan yang lebih sempurna bagi ummat manusia. Sekalipun akadnya waqafnya sudah jelas yakni untuk perjuangan islam bukan untuk pengairan, pembuatan jalan dan beli pupuk.

Kehujjan Istihsan.

Penggunaan istihsan sebagai sumber hukum islam masih diperselisihkan oleh kalangan ualama, dalam hal ini terdapat dua pandagangan besar, berikut penjelasannya.

Pertama. Pendapat pertama ini menyatakan bahwa istihsan dapat dijadikan sebagai hujjah dalam menetapkan hukum, pendapat ini  digunakan oleh hanafi, maliki dan hanbali.

Dalil yang dijadikan sebagai pegangan ialah

Firman Allah. Dalam .”

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang Telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu[1315] sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (al-Zumar:55)

Menurut mereka, dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti yang terbaik, dan perintah menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada hal lain yang memalingkan perintah ini dari hukum wajib. Maka ini menunjukkan bahwa Istihsan adalah hujjah.

Firman Allah

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya[1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, 18.  Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.

maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran Karena ia adalah yang paling baik. (al-Zumar: 17-18)

Ayat ini –menurut mereka- menegaskan pujian Allah bagi hambaNya yang memilih dan mengikuti perkataan yang terbaik, dan pujian tentu tidak ditujukan kecuali untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah.

Hadits Nabi saw:

فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di sisi Allah adalah baik, dan apa yang di pandang kaum muslimin jelek maka disisi allah adalah jelek.

Tapi yang dimaksud dengan kaum muslimim pada dihadist diatas ialah para kalangan ulama’ yang ahli dalam bidang hukum agama.

Pendapat yang kedua. Istihsan tidak dapat dijadikan rujukan dalam ijtihad, pendapat ini dipegang oleh Syafi’i dan Abu Daud Zhahiriyah. Beberapa argumen yang dilontarkan sebagai berikut.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (al-Nisa’ : 59)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keharusan untuk merujuk kepada allah dah rosul-Nya, sedangkan istihsan tidak termasuk dalam katagori kembali kepada allah dan rosul-Nya. Melainkan menyelesaikan masalah dengan  hawa nafsunya.

Salah satu ungkapan Imam al-Syafi’i yang sangat masyhur seputar Istihsan adalah:

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang melakukan Istihsan, maka ia telah membuat syariat (baru)”. Maksudnya ia telah menetapkan dirinya sebagai penetap syariat selain Allah.

.2. Maslahah Mursalah

Maslahah : Secara etimologi Mursalah adalah “suatu amalan yang ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan suatu manfa’at bagi dirinya atau kaumnya.

Sedangkan Mursalah adalah : ( المطلقة ) sesuatu yang terlepas/terbebas. Sedangkan Menurut ulama’ ushul Fiqh ialah mengambil satu  hukum setelah Al-Qur’an, Hadist , ijma’ dan Qiyas dengan memandang  kemaslahatan umat islam.

Dari pengertian diatas imam Al-Ghazali mempunyai devinisi tersendiri, bahwa maslahah ialah meraih manfaat dan menolak mudharat dengan tujuan untuk melindungi agama, akal, harta, jiwa dan keturunan. Maslahah mursalah ini pernah diterapkan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab ketika menjadi Khalifah, bahwa umar tidak memberlakukan hukum potong tangan kepada seorang yang mencuri sampai pada Nishabnya, pada hal dalam Al-Qur’an sudah jelas.

Firman Allah.

االسارق والسارقة فاقطعوا ايدياهما

Dan Hsadist Nabi

لو سرقت الفاطمة لقطعت ايدياهما

Dalil Al-Qur’an dan Hadist tersebut bila dilihat dari sisi lahir saja maka kebijakan Sayyidina Umar tidak berlaku bahkan bertentangan dengan syari’at, sedangkan bila dlihat dari ruh antara al-Qur’an, Hadist( Maqoshidul Nash)diatas dan kebijakan yang diterapkan oleh Sayyidina Umar untuk menghentikan potong tangan, maka kebijakan  Sayyidina Umar dapat dibenarkan pada kaca maslahah. Karena pada waktu itu terjadi krisis ekonomi yang disebabkan adanya musim paceklik yang sangat parah.

mazhab Malikiyah maupun dari kalangan asy-Syafi’iyah menerima maslahahmursalah sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam dengan persyaratan.

Pertama, hukum yang ditetapkan harus mengandung kemaslahatan.

Kedua, maslahat tersebut sejalan dengan maksud pembentukan hukum Islam, yaitu dalam rangka memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan atau kehormatan.

Ketiga, maslahat yang kriterianya seperti pada poin kedua tersebut, tidak ditunjukkan oleh dalil tertentu yang membenarkan atau sebaliknya membatalkan. Sedangkan ruang lingkup operasionalnya khusus dalam masalah muamalah dan adat, tidak berlaku dibidang ibadah ( mahdhoh).

3. Qiyas

Definisi Qiyas secara bahasa : Pengukuran ( التقدير ) dan Penyamaan (المساواة)

Qiyas mengharuskan adanya dua perkara, yang salah satunya disandarkan  kepada yang  lain secara sama.

Sedangkan menurut ulama ushul Fiqh ialah menyamakan suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya terhadap perkara yang lain karena ada kesamaan illat diantara keduanya.                                                                                                                                  Yang menyebabkan adanya qiyas adalah  adanya kesamaan antara  al-maqis (perkara yang mengqiyaskan) dengan al-maqis alaih (perkara yang diqiyasi) dalam satu perkara, yakni adanya penyatu antara keduanya. Perkara tersebut adalah illat.                         Contoh.Pengharaman (pelaksanaan) ijarah ketika adzan Jumat, yang diqiyaskan pada keharaman jual-beli ketika adzan Jumat, karena adanya ‘Illat yang digali dari nash, yakni melalaikan  shalat jumat. Allah  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah [62:9).

Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan terdapat 4 rukun

  1. asal                  : jual beli
  2. cabang (qiyas)  : Ijarah
  3. hukum syara’ : haramnya jual beli pada saat adzan jum’at
  4. illat                   : melalaikan shalat jum’at

Qiyas merupakan salah satu dasar hukum yang dijadikan sumber hukum dalam islam untuk menyelesaikan perkara yang baru yang ketentuannya belum ada didalam Al-Qur’an dan hadsit. Dan Qiyas disepakati oleh kalangan ulama bahwa qiyas bisa dijadikan hujjah terkecuali dari kalangan ulama’ Zhahiriyah, Syiah, Mu’tazilah dan Ibnu Hazm dengan alasan bahwa semua hukum sudah ada dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s