Hukum dan kajian dalam Filsafat


Filsafat berasal dari kata yunani yang berarti Philosophia, kata rangkaian dari Philen,  yang berarti mencintai dan shopia berarti kebijaksanaan atau dalam bahasa arab disebut Hikmah. Secara detailnya Philoshopia mempunyai pengertian cinta akan kebijaksanaan. Dan bagi orang yang berfilsafat disebut “filsuf” atau “filosof” yang berarti pecinta akan kebijaksanaan.[1]
Dari pengertian diatas tidak lain didalam berfilsafat hanyalah ingin mencari dan menemukan kebijaksanaan, sehingga manusia lebih arif dan mempunyai keyakinan didalam membuat keputusan dengan beberapa pertimbangan. Dan didalam dunia ini ada dua corak yang sangat mewarnai, yaitu pertama agama yang mana kebenarannya bersifat Absolute sementara tokoh yang menyampaikan agama disebut Nabi yang diutus untuk menyampaikan risalahnya, yang kedua Filsafat yang kebenarannya hanyalah bersifat relativ  terkadang benar dan terkadang ada salahnya karena selayakya sebuah ilmu yang berasal dari pemikiran manusia, sementara tokoh dalam filsafat ialah para filosof.  [2]
Tapi meskipun demikian filsafat tidak seperti makna yang didevinsikan diatas, bahkan sebaliknya ilmu filsafat oleh ulama konservatif (Klassik)  dilarang dipelajarinya bahkan diharamkan, tidak lain karena mengacu pada fakta yang ada yaitu ketika seorang pelajar mendalami ilmu filsafat diperguruan tinggi ia telah menyimpang dari syari’ah islam bahkan tentang kebenaran Al-Qur’an dan keberadaan tuhanpun telah diragukan akan kebenaran dan keberadaannya  dengan berdasarkan terhadap pemikiran kristisnya yang serba harus rasional, sehingga dengan kejadian tersebut para kalangan santri yang menjadi mahasiswa diperguruan tinggipun ketika mengikuti studi filsafat seakan-seakan ia bertemu harimau yang siap lari dari cengkramannya.
Bagi para kaum terpelajar sebaiknya tidak mengabaikan dari keluhan fakta yang ada, karena jika sebuah fakta( filsafat dianggap sesat)  tersebut tidak diatasi maka keilmuwan filsafat tidak akan pesat dikalangan kaum terpelajar padahal ilmu filsafat sangat besar didalam mengasah kemampuan manusia. Dan hal yang sangat besar pengaruhnya mengapa filsafat diharamkan oleh kalangan konservativ? Tidak lain ialah atas pengaruh Kitab Al-Ghazali yang berjudul Tahafudz Filfalasifah bahkan imam Ghazali mangatakan “Belajar filsafat tidak akan memperkuat iman dan manusia berada dalam keraguan terhadap agamanya” tapi perlu digaris bawahi bahwa Kitab Al-Ghazali yang berjudul Tahafudz Filfalasifah lebih tertuju kepada filsafat Teologi ( Ilmu Kalam).[3]
pada awalnya ilmu kalam hanyalah membahas bahwa Al-Qur’an itu Qodim atau Makhlukkah? Hal ini yang melibatkan pertikaian antara Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk sementara Asy’ari mangatakan Al-Qur’an adalah Qodim. Pada kelanjutannya para mutakallim lebih meluas membahas tentang sifat-sifat Tuhan, disinilah Filsafat ikut campur dalam pembahasan sifat-sifat  tuhan sehingga melahirkan Teologi Filsafat [4] Dimana ideologi didalam membahas tentang sifat-sifat tuhan para filosof lebih menggunakan akalnya yang serba rancu dan sangat sulit ditangkap oleh kalangan awam bahkan manusia dapat dikatakan berada dalam keraguan bagi akalnya yang kurang mampu mencerna. Disinilah imam Al-Ghazali  tampil dengan keberaniannya dengan mengharamkan belajar filsafat atas Bukunya Tahafudz Filfasifah. Jadi jelaslah uraian diatas bahwa Buku imam Ghazali tertuju kepada para teologi filsafat bukan untuk filsafat yang lain karena ddalam filsafat  beribu-ribu keilmuwan yang dijadikan bahasan bukan hanya sekedar Metafisika (ketuhanan)  aja. [5]
Mengapa mahasiswa akidahnya rusak dengan Belajar filsafat di perguruan tinggi dan semisalnya di organisasi ?
Pertanyaan ini sering menjadi andalan para kalangan agamawan.  yah memang pertanyaan tersebut harus dikeluarkan bahkan menjadi teguran para kalangan pemikir bebas agar jangan mendewakan pemikirannya sebagai penentu segala sesuatu, kalau saya pribadi mengamati kerusakan akidah para mahasiswa ialah
Pertama pedoman syari’ah kurang kuat, karena syari’at merupakan dasar yang paling utama dalam kehidupan beragama sebagaimana yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Hadist.
Kedua berpikir tidak kenal Batas padahal saya kira apapun ada batasnya seperti seorang pembalap mobil tentunya disitu ada batas-batas jalan yang tidak boleh dilewati toh  kalau ia masih ngeyel masih melewati juga, terpaksa ia akan mati konyol begitu juga dengan pemikiran filosofis yang tidak kenal arah ( kesurupan) melanggar peraturan-peraturan agama yang telah dianggap Baku, dengan mengandalkan pemikiran kristisnya tanpa mempunyai dasar akidah yang kuat, padahal Al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber aturan yang jelas dan tidak Boleh diterobos dengan pemikiran yang sesuai dengan hawa nafsunya, kalau toh memang Al-Qur’an dan Hadist perlu ditafsiri dan di takwil agar dapat menambah keyakinan dan keimanan kita, seharusnya dilakukan dengan penafsiran yang sesuai suara  hati nuraninya yang sehat bukan atas dasar hawa Nafsunya yang Brutal dan tentunya yang tak  lupa harus belajar metodologi dalam penafsirannya. [6]
Ketiga  didalam mempelajari Metafisika (sifat-Sifat ketuhanan ) terlalu berpegang teguh terhadap para filosof klassik seperti Al-Kindi dan Ibnu Sina, memang berfilosofis terhadap agama itu penting untuk memantapkan keyakinan tapi filsafat itu adalah alat dalam berfikir, negativ dan positifnya tergantung dari pemakainya dan orang islam didalam berfikir filosofis sudah mempunyai penalaran  sendiri yaitu al-Qur’an dan Hadist. [7]
sedangkan penalaran yang  digunakan filosof kuno seperti Ibnu Sina didalam mencari ketuhanan tidak memakai dalil Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi memakai dalil akalnya yang membagi tuhan dengan  wajibul wujud dan mumkinul wujud yang sangat sulit dicerna bagi kalangan awam, akan tetapi Ibnu Sina lebih mengandalkan akalnya karena akal menurut ibnu sina dapat menemukan hakekat kebenaran, tentunya hal ini berbeda dengan ulama Ilmu kalam yang melakukan pendekatakan dengan Al-Qur’an dan Hadist. Memang pendekatan yang dilakukan Filosof dengan akalnya tidak bisa dikatakan salah akan tetapi hal ini harusah didasari dengan akidah yang kuat, terutama bagi orang awam yang sangat sulit untuk mencerna hakikat. [8]
sementara dari beberapa literatur yang lain saya jumpai bahwa al-kindi dan Ibnu Sina tentang ajaran kebatinannya lebih banyak dipengaruhi Syi’ah Islamiyah yang ingin menjadi penguasa dengan menggunakan berbagai hal. [9]  Belajar filsafat terutama bagi kalangan santri menjadi keharusan kalau menang toh takut tersesat dengan berfilsafat janganlah mengarah kepada Bidang Metafisika karena filsafat sendiri adalah Ilmu kritis yang berusaha untuk mencari kebenaran dan didalam filsafat sendiri tidak hanya meruang lingkup pada Metafisika saja, akan tetapi semua bidang keilmuwan ada kajian falsafahnya sepeti falsafah pendidikan, falsafah Pancasila, falsafat Ekonomi, falsafah kejiwaan, falsafah menejemen dan lain-lain.  dan santri jangan berharap akan menjadi seorang ilmuwan jika pemikirannya masih fatalis dan tidak mengakar yang hanya mengandalkan taqlid saja.
Yang jelas tulisan ini  berusaha mengambil jalan tengah dalam mempelajari filsafat karena selama ini banyak keluhan dari kalangan agamawan yang menganggap filsafat sebuah bencana bagi kalangan umat islam, tapi bagaimanapun kritikan dan keluhan tersebut oleh para penggemar filsafat, harus diterima karena memang kenyataannya demikian. Tugas para penggemar filsafat adalah bagaimana citra filsafat dapat dipelajari secara menyeluruh  baik dari kalangan agamawan maupun intelektual. Sehingga keilmuwan islam dapat berkembang pesat.
Dan tak lupa pula tulisan ini menggaris bawahi mempelajari belajar filsafat boleh-boleh saja, karena filsafat hanyalah ilmu berfikir secara radikal, sistematis dan universal. Ketiganya tidak boleh dikekang karena manusia makhluk berfikir, alangkah baiknya jika pemikiran tersebut diterapkan dalam dunia kelimuwan, akan tetapi harus sesuai yang digariskan oleh aturan agama, bukan mementahkankan hal-hal yang sudah Baku.
Dan didalam keilmuwan islam pun telah telah Banyak memakai pendekatan dengan system filsafat meskipun sebagian mengingkari, seperti tasawuf, Fiqh dan Ilmu Pengetahuan, yang insya allah akan dibahas Bab selanjutnya.[]

[1] . Hasyimsayah Nasution. Filsafat islam. Jakarta. Gramedia Pratama. 1999. Hlm 1
[2] . Disajikan dalam Mata Kuliah Filsafat Umum  Stit Ibnu Sina Kepanjen Malang. 2008
[3] . A.Fatih Syuhud. Edidi 28 Mei 2010. Filsafat Pendidikan Islam . Buletin Alkhoirot. Hlm. 1
[4] . Zuhairini Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta Hlm 112.
[5] . Mulyadi Kartanegara. Mozaik Khazanah Islam. Jakarta. Paramadina. 2000.  Hlm. 85
[6] . Disampaikan dalam Mata Kuliah filsafat Yunani stf- alfarabi kepanjen Malang 2011
[7] . A.Fatih Syuhud. Op.cit. hlm.1
[8]. Ahmad Daudy. Kuliah Filsafat Islam. Jakarta. Bulan Bintang. 1989. Hlm. 72
[9] . Rosihan Anwar. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia. Bandung. 2009.  hlm. 168

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s