Thales dan Profesinya


THALES

(624-550 SM)

Berasal dari Miletus, salah satu tujuh dari orang bijak dari yunani, dan salah seorang dari Tritunggal Mazhab Milesian.

Berpikir pemikiran Thales

Thales mengatakan bahwa “segala sesuatu terbuat dari air” dan yang terpenting adalah air. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Thales dapat berpikir tentang hal itu? Apakah ini hanya logika berpikir, istilah, atau observasi yang dilakukan oleh Thales? Hal ini mungkin dapat dijawab apabila kita mencoba masuk lebih dalam tentang pemikiran beliau. Air suatu senyawa kimia yang didalamnya terkandung beberapa zat seperti Hydrogen, Oksigen, Besi, Natrium dan lainnya yang membentuk senyawa H2O, (walaupun jaman Thales belum ditemukan persenyawaan seperti itu) yang selalu dimanfaatkan oleh setiap Individu dan air sangat dibutuhkan oleh tubuh, untuk diminum, mencuci, mandi. Tidak hanya bagi individu tapi tanaman juga membutuhkannya untuk nutrisi, untuk pengairan sawah dan lainnya. Dari sinilah memungkinkan Thales mengungkapkan suatu pernyataan bahwa segalanya terbuat dari air, dengan pembuktian bahwa segala sesuatu membutuhkan air dan air merupakan substansi yang terpenting.

 

Beliau berpendapat bahwa air adalah substansi dasar yang membentuk segala hal lainnya; dan beliau juga mengatakan bahwa bumi mengapung diatas air. Mengapa hal itu bisa terpikirkan oleh beliau? Pernyataan ini terlihat konyol, tapi cobalah berpikir tentang realitas pada waktu itu dengan keterbatasan panca indera dan teknologi. Dengan hal ini beliau sudah melakukan observasi walaupun kurang mendetail.

Pernyataan bahwa segala sesuatu terbuat dari air bisa dianggap sebagai hipotesis ilmiah dan sama sekali bukan pendapat yang tolol. Dua puluh tahun lalu, sudah diterima pandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hydrogen, yang dua pertiganya adalah air (Russel 2007 : 33)

Pemikiran segala sesuatu terbuat dari air dan substansi yang terpenting adalah air, dapat diartikan sebagai proses pemikiran deduktif, dimana pernyataan khusus tentang terbentuknya alam adalah air dan pernyataan umum mengenai esensi pembentukan alam terbuat dari air adalah kebutuhan alam akan air (manusia, tumbuhan, hewan).

Ilmuwan yang berfilsafat

Thales mengatakan bahwa “segala sesuatu terbuat dari air”. Berdasarkan pengertian modern, Thales lebih dianggap sebagai ilmuwan daripada sebagai filsuf, karena didasarkan oleh kata bijaknya, yang mengatakan bahwa segala sesuatu terbuat dari air. Hal ini terlihat bahwa ekspresi Thales lebih mendasar pada ungkapan ilmuwan yang Ilmiah. Dalam kamus bahasa Indonesia kata Ilmuwan berarti “orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu Ilmu; orang yang berkecimpung di ilmu pengetahuan”, sedangkan filsuf berarti “orang yang berfilsafat” dan filsafat adalah pengertian dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Ingat pohon filsafat, dimana filsafat sebagai akar dan cabangnya ilmu-ilmu lain, contoh antropologi; sosiologi; geometri dan lain-lain. Hal ini diperkuat pada waktu Thales melakukan perjalanan ke Mesir untuk mempelajari ilmu Geometri kemudian dibawa ke Yunani untuk diajarkan di Yunani. Bahkan Thales karena Observasinya dapat menghitung jarak sebuah kapal di lautan. Thales mengemukakan proposisi yang dikenal dengan theorema Thales.

Matematikawan serba bisa

Aktivitas Thales lebih dikenal–dari berbagai sumber terpisah sebagai matematikawan terapan karena tidak ada bukti yang akurat untuk mempelajari pemikiran Thales, selain itu beliau juga tidak pernah membukukan semua ajarannya. Beberapa ajaran yang dapat dijadikan contoh adalah mengukur tinggi piramida dengan mengukur tinggi bayangan dengan menggunakan tongkat, memprediksi gerhana matahari, menentukan setahun adalah 360 hari (sudah dikenal lama oleh bangsa Mesir) maupun jarak kapal di laut dengan lewat cara proporsi/memadankan bentuk segitiga adalah catatan “kehebatan” Thales. Gerhana matahari disebutkannya  akan terjadi pada tanggal 28 Mei atau 30 September pada tahun 609 SM. Catatan yang ada menyebutkan bahwa gerhana matahari terjadi setiap kurun waktu 18 tahun 11 hari, ramalan ini juga membuktikan kehebatan thales, bahwa dahulu astronom Babylonia dapat meramalkan secara tepat tentang gerhana bulan yang berlangsung pada siklus 19 tahun tetapi kesulitan dalam meramalkan gerhana matahari berupa fakta bahwa gerhana itu bisa terlihat dari suatu tempat namun tidak terlihat di tempat lain. Ketepatan prediksi ini membuat namanya sangat terkenal dan diabadikan sebagai salah satu dari tujuh orang bijak yunani.

Kaya karena zaitun

Di ceritakan pula bahwa Thales pernah dicemooh oleh orang karena mereka menganggap filsafat itu tidak berguna, karena Thales sedikit tahun tentang ilmu perbintangan  maka beliau meramalkan akan terjadi panen besar-besaran buah zaitun ditahun depan, padahal pada waktu itu terjadi musim dingin yang berkepanjangan, dengan uang seadanya itu beliau menyewa semua alat pengolah zaitun di Chioes dan Miletus. Dari sini dapat dibuktikan bahwa filsuf bisa kaya jika mereka mau, tapi ambisi Thales bukanlah kekayaan. Melainkan hakekat dari seorang filsuf yang menanyakan sebuah jawaban. Pemikiran tentang seorang filsuf dapat menjadi kaya, yang kemungkinan akan menghasilkan kaum sofisme yang diawali oleh sofis pertama yaitu Pythagoras pada pertemuan mendatang.

Sumber: http://st303382.sitekno.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s