Al-khoirot Mencetak Santri Intelek

Pondok pesantren alkhoirot yang bertepatan di Jl. K.H. Syuhud Zayyadi karangsuko Pagelaran Malang adalah salah pesantren salaf yangberdiri pada tahun 1974 M, pesantrren ini cukup berhasil mencetak santri yang agamawan sehingga membaca kitab kuningnya tidak diragukan lagi. Merupakan sebuah kebaggaan bagi saya selaku santri alkhoirot yang harapan saya bisa menjadi seperti mereka. Pengasuh pertama dari pesatren ini KH. Syuhud Zayyadi ( Almarhum) dilanjutkan Oleh menantunya K.H. Zainal Ali Suyuthi, tapi pada masa ini santri dipesatren alkhoirot mendalam tentang keilmuwan agama saja tanpa mengenal perkembangan yang ada diluar dan pada tahun 2007 K.H. Ahmad Fatih syuhudputra almarhum K.H. Syuhud Zayyadi datang dari india setelah menyelesaikan pendidikan S 3 nya dengan meraih gelar Dr. A fatih Syuhud, MA.  Ia adalah orang intelektual yang sangat agresif dalam masalah pendidikan, yang semula santri hanya mengenal Baca kitab kuning oleh Beliau dikenalkan dengan Teknolologi dan Junalistik.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pembelajaran Ekspositori

A. Pengertian konsep Pembelajaran Ekspositori.

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Dimana kedudukan guru dalam metode ini sangat fundamental sekali. Karena murid lebih pasif dari pada aktivnya, tapi meskipun pasif belum tentu tujuan pembelajaran tidak dapat dapat dicapai oleh  peserta didik, karena tujuan bisa tercapai atau tidak tergantung pada seorang guru tapi disisi lain murid juga menjadi peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran hanya saja Pembelajaran yang semacam ini kondisinya harus strategis yaitu tingkat emosional anak sudah matang sehingga anak dapat serius juga kritis dan kondisi waktu tidak pada saat anak dalam keadaan lelah. Penggunaan pembelajaran ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung. Tapi meskipun demikian pembelajaran ini bisa saja di relasikan dengan metode yang lain seperti resitasi, demonstrasi Dll, yang penting materi dapat di sampaikan secara langsung oleh sang pendidik dan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Baca lebih lanjut

Macam-Macam Metode pengajaran

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebagai seorang pendidik seharusnya bisa menciptakan tercapainya suatu tujuan pembelaran, sehingga anak didik kita menjadi individu yang aktif, kreatif, efektif dan selalu mempunyai gagasan pemikiran yang kritis terhadap suatu keadaan baik intern maupun ekstren,. Tapi pada kenyataannya  sangat minim sekali para guru yang bisa menciptakan demikian, terkadang guru merasa mengajar akan tetapi siswa tidak merasa belajar. Itu merupakan suatu masalah bagi guru maupun siswa.

Hal tersebut bisa terjadi karena guru kurang mengenal  dalam masalah macam-macam metode pengajaran yang bervariasi sehingga tujuan pembelaran terhambat.  Tapi bagaimanapun kehadiran metode tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan, demi tercapainya tujuan pembelajaran, hendaklah sang guru mencermati masing-masing dari metode tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Metode Mengajar

Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh  sang guru atau instruktur.  Pengertian lain teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar. Baik secara individual atau kelompok/klasikan, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh  siswa dengan baik. Makin baik metode mengajar makin efektif pula pencapaian tujuan.[1]

2.2. Syarat-Syarat Penggunaan Metode

1. Metode mengajar yang diguanakan harus dapat membangkitkan motif, minat dan gairah siswa

2. Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribdian siswa

3. Kegiatan mengajar yang diguanakan harus dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mewujudkan hasil karya.

4 Metode mengajar yang digunakan harus dapat dapat merangsang keiginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan explorasi dan pembaruan.

5. Metode mengajar yang diguanakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri.

6. Metode mengajar harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat berbalistis dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata.

7. Metode mengajar yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap yang berjalan dalam kehidupan sehari-hari

2.3.MACAM-MACAM METODE PENGAJARAN

Metode pengajaran tentunya sangat bermacam-macam dan dan mempunyai langkah-langkah yang berbeda, tapi dalam makalah kami ini hanya sebagian  metode saja yang kami paparkan karena terbatasnya fasilitas bahan yang ada. Diantaranya

Baca lebih lanjut

Akibat Guru Banyak Aktifitas

Madrasah diniyah di pondok pesantren Al-Khoirot dilaksanakan pada malam hari setelah isyak, rohim adalah salah satu guru diniyah pondok pesanten al-khoirot yang mengajar sorrof, ia pada siang harinya sangat disibukkan dengan berbagai aktivitasnya, sekitar pukul 08.00 dalam keadaan capek rohim dan dalam waktu yang sama rohim berangkat bersama mukkarom untuk mengajar diniyah. rohim mengajar kelas ula II dan mukarram ula I yang kebetulan ruang kelasnya berdempetan.

Lalu rohim kedalam kelas mengucapkan salam kepada siswanya

rohim; “ assalamualaikum anak-anak?”

murid; “ waalakum salam pak?”

rohim; “ baiklah sekarang buka kitab kalian, dan materi yang akan kita bahas pada malam ini adalah tentang fiil dimana kalian nanti akan banyak mentasrif contoh-contoh yang ada baik secara isthilahi maupun lughowi”

rohim; “ hifni ada berapakah pembagian fill”

hifni; “ ada dua”

rohim; apa saja”

Hifni; “tsulasi dan ruba’I”

rohim; “ coba tasrif salah satu contoh dari fiil tsulasi “

hifni; “baik pak?”

Dengan suara merdunya hifni mentasrif, dan rohim mendengarkan sambil manggur-manggut kepalanya dan matanya kelopak matanya semakin menciut, setelah itu rohim bergesa-gesa memuji hifni.

rohim; “ bagus kamu hifni”

sekitar pukul 08.25 rohim menyuruh kepada siswa yang lain yaitu rosi.

Rohim; “ rosi sekarang coba tasrif contoh dari fi’il tsulasi yang lain sekaligus waqi’nya ”

Rosi ; “ baik pak?”

Rosi melakukan perintah gurunya, sang guru mendengarkan lantunan tasrifan dari siswanya yang agak lama waktunya dan guru kelopak matanya sang guru semakin menutup dan akhirnya tidur lelap.

Suyono ; “bangunkankan ros…?pak guru “

Rosi; “ biarkan saja yon………..? kita kan enak gak dapat pelajaran, sebaiknya kita istirahat aja ya..! biar istirahat kita agak lebih panjang……..! dan pak guru kita tinggalkans aja yuk didalam kelas.

Mukarrom; “ lho jam masih segini belum waktunya istirahat siswanya rohim kok sudah istirahat semua ya….?”

08.45 yang merupakan Jam istirahat sang guru dibangunkan oleh romli salah satu siswanya, dan sang guru melihat ruang kelasnya dalam keadaan hampa tanpa ada satu siswa pun.

ANALISIS SEJARAH ILMU NAHWU

I. LATAR BELAKANG TIMBULNYA ILMU NAHWU

1.Penyusun Ilmu Nahwu Orang arab pada dasarnya mempunyai dua keahlian berbahasa arab, yakni bahasa dialek dan bahasa fasih. Bahasa dialek digunakan sebagai bahasa percakapan dalam kehidupan seahri-hari misalnya seperti sedang berkumpul dengan keluarganya,  dalam urusan mu’amalat sedangkan pada saat tertentu mereka harus menggunakan bahasa yang fasih, mereka pun sanggup melakukannya secara sempurna. Al-Qur’an dan sabda Nabi juga disampaikan dalam bahasa Arab yang fasih. ketika ummat islam  berhasil melakukan ekspansi keberbagai kedaerah non arab, Mulai dari  masa umar Bin Khattab sampai Ustman Bin affan. disitu dapat dipastikan orang arab harus berinteraksi dengan kalangan non arab. Akibat dari perkumpulan secara intens tersebut dan dalam waktu yang lama, bahasa arab mulai terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain. Yang mengalami kekeliruan didalam mengucapkan bahasa yang fasih ( alqdur’an dan hadist) bukan dari kalangan awam saja melainkan dari kalangan orang arab sendiri mengalami kekeliruan. Pada masa umar Bin Khattab sampai Ustman Bin affan belum ada tindakan untuk menyusun kaidah Qowaid Nahwiyah.

Awal mula dibentuknya ilmu nahwu ini ialah.  pada masa pemerintahan khalifah Ali Bin Abi thalib wilayah kekuasaan islam melampaui sungai eufrat, tigris dan Dariyah, semakin luasnya wilayah yang dikuasai oleh islam pada saat itu, semakin banyak pulalah pemeluk agama islam. Pemeluk agama islam bukan hanya dari kalangan arab saja tapi dari dalam kalangan non arab sendiri juga banyak. Maka disitulah  ditemukan kesalahan-kesalahan  di membaca teks  Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber ajaran islam.   khalifah Ali Bin Abi thalib menganggap  kesalahan-keslahan ini sangat fatal terutama bagi orang-orang  yang akan mempelajarai ajaran islam dari sumber aslinya yang berbahasa arab, oleh karena itu khalifah Ali Bin Abi thalib mempunyai inesiatifnya untuk menyusun Qowaid Nahwiyah dengan memerintahkan seorang muridnya yakni Abu Aswad Al Duali.

Baca lebih lanjut

ilmu

Baca Selanjutnya >>

ISTRIKU PASTI CANTIK DAN SHOLEHAH he he he….

oleh A Fatih Syuhud

Salah satu tujuan Islam adalah untuk memberdayakan umat manusia supaya dapat mengoptimalkan potensi diri dan dengan demikian menjadi invidu terbaik di lingkungannya (QS Ali Imron 3:110). Menjadi seorang figur terbaik itu hampir mustahil dicapai apabila tanpa disertai dengan ilmu. Oleh karena itu, ilmu dan orang yang berilmu menempati posisi yang sangat tinggi dalam Islam yakni beberapa level di atas yang lain (QS Al Mujadalah 58:11).

Mengapa keilmuan sangat diagungkan dalam Islam, hal itu tidak lepas dari banyak faktor, antara lain internalisasi nilai-nilai ideal Islam.

Islam memerintahkan seorang individu muslim untuk mereformasi diri dalam rangka menuju kepribadian yang lebih dekat pada nilai-nilai ideal Islam (QS Al Balad 90:10-16). Untuk menuju ke arah ini, diperlukan setidaknya dua hal dalam diri seorang muslim.

Pertama, niat atau determinasi untuk mereformasi diri. Ahli psikologi sepakat bahwa keberhasilan apapun sangat tergantung pada niat atau kemauan kuat yang disertai dengan semangat (courage) dan kepercayaan diri (confidence) seseorang. Tanpa itu, sulit mencapai apapun yang dituju termasuk dalam mencapai internalisasi nilai-nilai ideal Islam. Karena pentinya niat ini, maka pakar fiqh (yurisprudensi Islam) sepakat bahwa niat menjadi faktor sah dan tidaknya suatu perbuatan ibadah seperti salat atau puasa.

 Hal ini berdasarkan sebuah Hadits sahih yang menyatakan bahwa “Sahnya suatu perbuatan itu tergantung pada niat.” (Innamal a’malu bin niyyat).

Kedua, ilmu. Setelah ada niat yang benar, maka ilmu menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai apa yang kita tuju termasuk dalam rangka menjadi pribadi muslim yang (mendekati) ideal. Dalam hal ini, ilmu agama dasar hendaknya menjadi prioritas utama sebagai sarana untuk mengenal apa yang halal dan haram, yang sunnah dan makruh dalam Islam. Pengetahuan dalam soal halal-haram ini penting dan akan menjadi koridor atau pagar minimal bagi kita dalam melangkah menempuh kehidupan keseharian.

Namun demikian, fungsi ilmu tidak hanya utnuk mereformasi kepribadian. Ia juga menjadi alat untuk mencapai tujuan apapun yang positif dan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Ilmu semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Islam tidak melarang seorang muslim untuk mempelajari dan mengkaji keilmuan apapun selagi untuk niat yang baik dan secara riil dapat bermanfaat.

Imam Abu Hamid Al Ghazali (Ihya Ulumuddin, Darul Kutub, Beirut, 2007, hlm. I/60) membagi ilmu menjadi tiga kategori. Pertama, ilmu yang tercela secara mutlak yakni ilmu yang tidak bermanfaat secara duniawi maupun ukhrowi. Kedua, ilmu yang terpuji secara mutlak yaitu ilmu agama terutama yang berkaitan dengan Allah, sifat-sifatNya dan segala ilmu yang dapat mendekatkan diri untuk mengenal-Nya. Ketiga, ilmu yang baik tapi tidak perlu berlebihan mempelajarinya yaitu yang berkaitan dengan ilmu fardhu kifayah.

.Poin terpenting adalah bahwa ilmu menjadi sarana penting untuk apapun yang kita tuju dalam kehidupan kita baik dalam mencapai kehidupan duniawi maupun spiritual.[]

Pendidik Pencetak Manusia Utuh

Manusia utuh dalam bahasa Arab sering kali di identikkan manusia “kamil” yakni seorang individu yang mempunyai kepribadian kecerdasan spiritual(SQ) intlektual(IQ) dan emosional(EQ). Sehingga Pada masa yang akan datang manusia inilah yang akan menjadi khalifah Allah terbaik dimuka bumi ini, yang senantiasa akan membawa kesejahteraan dan rahmat bagi seluruh alam.

Baca lebih lanjut